Jumat, 13 April 2012

ngutip dari bintang kecil educares

nie tulisan bagus dari bintang kecil educares. 

Sejauh mana kita berbagi?

Terkirim November 10, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Kucing sangat suka dengan ikan, daging ayam pun juga suka. Tak jarang saking laparnya si kucing rela mencuri milik si empunyanya. Atau mencuri di warteg di pinggir jalan bagi kucing-kucing tak berteman. Mengapa teman? menyebutnya kucing tak bertuan atau tak bermajikan sepertinya bukan tempatnya. Karena alasan memelihara adalah untuk dijadikan temana bukan menggaji atas  usahanya menangkap tikus dan juga tidak mempekerjakan dia menjaga lumbung padi. Dia adalah teman yang sangat setia, yang mau saja dielus, mau saja di panggil meskipun tidak bermaksud diberi makan. Senang ada teman bermain, melompat-lompat dengan lidi, bermain bola, mengagumi bulu indah nan lembutnya, sungguh ciptaan yang sangat menghibur.
Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak mendapat perlakuan yang layak. Dalam buku biologi dasar mungkin tertulis kucing adalah jenis pemakan daging atau karnivora, tapi agaknya sekarang mulai berubah. Bagaimana dengan ini, kucing adalah salah satu pemakan tulang.
Manusia terlalu rakus dan serakah untuk berbagi dengan kucing. Acap kali di meja hidangan tersedia berbagai macam hidangan yang begitu banyaknya, bahkan melebihi kuota untuk makan satu keluarga. Tetapi begitu ada kucing yang mengeong kelaparan yang diberikan hanyalan tulang-tulang sisa cabikan kala makan siang. Selalu tulang dan tulang. Tanpa daging yang melekat disana. Tak heran kalau banyak pencuri kecil dirumah dan kedai-kedai makanan. Saking jengkelnya pun yang merasa telah dicuri pun memasang jebakan racun agar sang pencuri tewas dan tidak mengganggu lagi. Bukan seperti itu, seharusnya.
Kucing juga perlu di sayang.
Jumat, 16 September  kemarin, aku  dan rombongan Bintang Kecil Educares study tour ke salah satu tempat wisata yang terkenal di Jakarta. Saat itu ada tema belajar mengenai transportasi. Waktu itu sudah memasuki waktu makan siang, maka rombonganpun mencari anjungan untuk menggelar tikar dan membuka bekal piknik. Piknik seperti ini sangat menyenangkan. Ditemani hembusan angin sepoi-sepoi dan makan bekal yang sangat khas rumah. Menu waktu itu,permintaan menu rombongan adalah ayam dan ikan goreng bumbu lengkuas, cap cay, sambal teri dam buah jeruk yang sangat segar. Dan waktu itu ada seekor kucing yang lapar di sana.
Bau ayam yang menggoda membuat si kucing lapar. Ia pun turut naik ke anjungan. Karena sang kucing mengganggu, bukan, sebenarnya sang kucing berbicara kalau dia lapar dan ingin makan, namun kata-katanya tentu saja tidak dapat dimengerti. Seperti umumnya, bahasanya di anggap sebagai gangguan karena dia mengeong sambil mengusap-usapkan kepalanya. Ya, maksudnya dia minta makan. Maka aku memberinya sisa-sisa makanku, tulang ayam beserta kulitnya.
Hal itu menarik hati ketua rombonganku, beliau senang melihat sang kucing diberi makan, tetapi melihat apa yang diberikan, beliau berkata “Kalau ada dagingnya kenapa harus memberi tulangnya saja? Kucing juga mau dagingnya, bukan tulangnya saja.” Berbagi namun tidak berarti, itu yang terlintas kala itu. Padahal persediaan makanan sangat banyak. Sungguh manusia itu serakah sekali.
Kalau punya kenapa memberi hanya setengah-setengah? Tau begitu pun akhirnya sang kucing ku beri sepotong paha ayam yang utuh dengan dagingnya. Degan lahap dia makan tanpa bersuara. Kucing…maafkan aku ya…
Tak hanya sampai di sana, masih banyak alasan mengapa kucing juga pelu diberi dagingnya, bukan tulangnya saja.
Ketika masih ada jatah makanan untuk si kucing, biasanya bagi yang sayang dengan kucing memang mau memberinya makan. Namun perlu diperhatikan kalau duri ikan dapat melukai mulut. Sama halnya ketika manusia sedang makan ikan, durinya pasti disisihkan atau dibuang dalam arti tidak dimakan. Untuk kucing tentu saja itu juga berlaku. Walaupun kucing diciptakan memiliki gigi yang tajam, namun kucing juga tidak makan tulang.
Ketika kucing diberi ikan yang berduri atau bertulang, yang terjadi adalah kucing sukar makan karena harus mencabik lebih lama. Kalau bisa mencabik tentu sangat lama, namun ketika tulang atau duri ikut serta masuk ke dalam mulut sama seperti manusia, kucing juga bisa tersedak. Tentu rasanya juga sakit. Akibatnya kucing bisa muntah. Sebagai pemilik rumah tentu yang harus membersihkannya juga. Masih beruntung jika tersedaknya tidak menyebabkan kematiannya. Namun terkadang manusia memang tidak memperdulikan hal itu. Tersedaknya kucing tidak berarti apa-apa bagi yang tidak menyadarinya. Namun sebenarnya itu adalah ujian apakah kita bisa menyayangi sesama atau tidak.
Jika suka berbagi dengan kucing, kemungkinan tidak akan ada pencurian ikan di warteg atau di balik tudung saji. Buat apa mencuri kalau nanti diberi. Tidak akan ada pencurian mesin ATM ataupun perampokan seperti beberapa hari yang lalu. Kemungkinannya lagi, tidak akan ada pembajakan karya maupun ide. Dengan berbagi semua akan tersedia dan mendapatkan jatah masing-masing. Dari berbagi dengan kucing, bisakah kita berbagi hal yang positif? Sejauh mana kita berbagi?

Ublek, Kotor itu Baik

Terkirim November 4, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar anak-anak bermain ublek? Adonan lengket? Mengotori tangan dan baju mungkin? Kegiatan di sentra bahan alam yang ideal tentu ada kegiatan ublek. Adonan lengket, basah dan dingin terbuat dari tepung sagu, sebenarnya apa fungsinya untuk anak-anak?
Kebiasaan ibu-ibu pada umumnya tidak suka anaknya bermain kotor-kotor. Maunya ingin selalu bersih. Sebenarnya anak-anak juga perlu mengenal apa yang berada di dalam kotor itu karena dengan adanya kotor anak akan belajar. Belajar apa saja?
Orang dewasa tahu kalau
Aisha dan Zizu main ublek bersama. Asyikknyaaaaaa.....
Aisha dan Zizu main ublek bersama. Asyikknyaaaaaa.....
adonan sagu seperti apa tekstur dan sifatnya. Namun anak-anak belum mengenal sifatnya secara keseluruhan. Ublek mengajarkan perubahan wujud benda yang semula padat (berbentuk tepung), kemudian setelah dicampur dengan air akan berubah menjadi berwujud cair. Anak  akan menggunakan indera perabanya, merasakan tekstur adonan sagu yang berusaha dia genggam, mengalir ke tangannya,menempel di kulit bahkan terciprat ke bagian dari  badannya. Dengan bantuan orang dewasa, kita kenalkan satu- persatu sifat-sifat bahan alam tersebut maka kosakata anak mengenai kata sifat pun bertambah. Anak akan mulai mengenal kata lengket, lembut, basah,mengalir, kotor dll.
Ya. Ketika dimainkan ublek akan mengotori sebagian besar badan anak karena anak akan menggunakan kedua tangannya untuk meraba, memainkan dan menciprat-cipratkannya kemana-mana sampai selurih badannya mungkin bisa terkena cairan itu. Namun disitulah manfaatnya. Ublek melatih motorik halus anak. Dari cara anak meremas, menggenggam, mencolek-colek dengan tangannya, menuang dari tangan satu ke tangan yang lainnya, anak akan belajar meraba dan merasakan baik teksture maupun temperatur. Anak akan merasakan sifat dari suhu ublek. Ketika meraba dan mengaduk-aduk ublek dengan tagannya kesan pertama setelah tekstur adalah suhunya. Anak-anak akan merasakan suhu adonan sagu dengan seksama melalui telapak tangannya.
Tujuannya agar anak bisa peka dan mengerti semua sifat dari ublek itu. Tidak hanya dari segi ilmu pengetahuan alamnya (sains), anak juga belajar memahami konsep motorik halus.
Melalui ublek, anak juga belajar warna dan perubahannya. Melalui perpaduan campuran warna anak akan mengerti banyak, ternyata warna yang beraneka itu terbuat dari warna utama. Adonan ublek dapat diberi warna dengan pewarna makanan agar anak tetap aman, secara bertahap mulai dari warna primer kemudian berlajut ke sekunder dan tersier. Perlahan, setelah mencoba meraba anak akan mengerti dan membuat kesimpulan dengan kata-katanya sendiri. Ternyata lembut itu seperti ini, ternyata ublek juga dingin, ternyata lengket di tangan, ternyata cepat keringnya, ternyata sukar di ambil dengan tangan,ternyata setelah kering menjadi tepung lagi, dan masih banyak lagi pengetahuan anak akan kata sifat tergantung seberapa banyak  kita mengenalkannya.
Jadi apakah Anda harus takut kotor? Ternyata kotor itu baik ya…
Tapi jangan lupa,setelah bermain tentu harus bersih-bersih atau mandi.

Allah Suka Orang yang Bersih

Terkirim Oktober 24, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Aisha mandi dengan boneka adik bayi
Aisha mandi dengan boneka adik bayi
“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At-Taubah:108)
Allah SWT mengulang-ulang pernyataannya dalam Al-Quran tentang arti bersuci bagi hambanya. Allah menjadikan bersuci sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap kaum muslimin. Hal ini sebagaimana yang tercermin dalam wudu sebelum melaksanakan shalat wajib lima kali sehari dan salat sunah yang dianjurkan. Selain itu Allah juga mewajibkan mandi sesuai syariat dalam setiap kesempatan untuk menyucikan tubuh baik laki-laki maupun perempuan.
Ada 2 jenis air yang dapat digunakan untuk mandi, yaitu air hangat dan air dingin.
Mandi menggunakan air hangat, uap/sauna bermanfaat untuk membuka pori-pori tubuh secara keseluruhan. Hal ini diikuti dengan membaiknya pernapasan sel-sel tubuh secara alami. Tak dipungkiri sel-sel tubuh manusia juga membutuhkan pernapasan sebagaimana halnya makhluk hidup.
Mandi air hangat juga dapat memperbaharui sel-sel tubuh yang telah rusak dan usang. Air hangat juga dapat menenangkan urat-urat syaraf. Apabila dilakukan di malam hari, mandi akan membuat seseorang tertidur lelap dan nyenyak. Hal ini juga memperkecil kemungkinan seseorang terserang diare sebab air hangat baik untuk pencernaan.
Bagaimana dengan air dingin? Mandi air dingin menjadikan sel-sel tubuh, termasuk pembuluh darah menyusut kembali setelah mengembang sebelumnya. Mandi air dingin membantu seseorang mendapatkan kelenturan tubuh yang dibutuhkan sehingga menghambat penyakit jantung dan hambatan sirkulasi darah. Pernapasan pun menjadi lebih aktif dan denyut jantung menjadi normal.
Islam tudak hanya menganjurkan setiap orang untuk menyucikan dirinya, tetapi juga menganjurkan setiap orang untuk turut memperhatikan kebersihan lingkungan masyarakat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang seseorang kencing di air yang mengalir”. Hal ini lebih terlarang lagi. Kenyataan pun telah membuktikan bahwa wabah penyakit dapat tersebar melalui air karena berbagai macam bakteri dan virus hidup di dalamnya. Larangan ini pun menjadi wajib (haram) hukumnya demi menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah terjadinya penyakit.
sumber: ensiklopedi kemukjizatan ilmiah dalam Al-Quran dan sunah

Come and Join Us!!! Happy learning with me..

Terkirim Oktober 20, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Come n join us !!!
Come n join us !!!

Setop bohongi anak !!

Terkirim Oktober 17, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

tiga sekawan azzam, areta, dan ayara pergi ke museun transportasi taman mini                                                                                                                                                                                                 Banyak ibu terlibat kasus kebohongan dengan sang anak. Dalam kasus sederhana misalnya,  awal mulanya sang ibu hanya bermaksud utuk meninggalkan anaknya sejenak di rumah agar anak tidak ‘merepotkan’ ketika belanja. Namun perlu diketahui hal ini dapat menyebabkan awal pengajaran kebohongan para orang tua kepada anak. Ketika satu kali bohong berhasil maka kebohongan selanjutnya akan dilakukan dan diulang lagi. Apa yang terjadi ketika anak mengetahui yang sebenarnya? Anak merasa dibohongi. Selanjutnya anak akan menganggap orang tuanya tidak dapat dipercaya dan melabeli bahwa orang tua bukan orang kepercayaan anak. Tidak heran jika kelak anak bisa bertindak semaunya sendiri tanpa bertanya atau berkonsultasi dengan orang tua terlebih dulu. Jawabannya mudah, karena anak punya keputusan yang menurutnya tanpa orang tua itu adalah tindakan yang sudah benar. Bagaimana timbal baliknya kepada orang tua? Jangan harap anak juga akan jujur pada orang tua.
“Merepotkan” perlu diberi tanda kutip, mengapa? Sebenarnya anak tidak merepotkan dalam arti yang sebenarnya. Banyak ibu-ibu muda terutama yang masih suka menghabiskan waktu belanja sendiri  walaupun sebenarnya ibu senior pun tidak jauh berbeda. Sang ibu ingin belanjanya berjalan mudah dan cepat bagi yang suka cepat tanpa ada yang menginstruksi ini-itu. Bagi ibu yang tidak bisa meninggalkan anaknya tentu saja harus membawa serta buah hatinya itu. Namun apa yang terjadi, pengalaman pertama sang ibu dimulai. Si anak menangis meronta-ronta karena tidak nyaman dengan banyaknya orang di lokasi belanja yang penuh sesak. Atau kasus lain, sang anak minta dibelikan mainan yang dilihatnya di pusat perbelanjaan, karena orang tua merasa itu hanya menghabiskan uang, anak tidak dibelikan dan akhirnya sang anak mengamuk, mengacak-acak barang dagangan. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Itu terjadi karena orang tua tidak ‘membekali’ anaknya.
Berdasarkan pada 1st experience, sang ibu mengambil kesimpulan ‘Saya kapok mengajak anak belanja, Cuma ngerepotin aja’. Apa kisah selanjutnya? Suatu ketika sang anak melihat ibunya berdandan rapi dan bertanya mau kemana. Sang ibu dengan entengnya menjawab bahwa dirinya hanya mau ke halaman sebentar. Padahal mau belanja. Akhirya anak ditinggal dalam keadaan dibohongi dan menunggu sang ibu kembali kerumah dengan penasaran, kenapa hanya ke halaman saja lama sekali. Maka, dalam otak anak tumbuh bibit ketidak percayaan, ternyata ibuku membohongiku. Kasus lain, jika tidak berbohong secara lisan, sang ibu langsung pergi tanpa pamit pada sang anak disebut kebohonan sikap. Ketika anak tahu dari baby sitternya bahwa sang ibu tidak ada di rumah dia mengangis sejadi-jadinya dan  mengamuk.
Berkata apa adanya atau jujur pada anak adalah solusi terbaik.
Inilah yang dimaksud dengan bekal sebenarnya. Sebelum melakukan perjalanan, beri tahu anak kalau kita mau pergi ke suatu tempat. Beritahukan apa yang ada dan yang bakal terjadi di lokasi. Beritahukan setting tempatnya, keadaannya dan aktifitas orang yang dilakukan di sana. Beritahukan semua kondisinya, maka anak akan belajar memahami suatu keadaan, belajar memutuskan sesuatu serta memahami konsekuensinya jika dia ikut atau tidak ikut. Ceritakan dengan bahasa anak agar anak mengerti. Ajak anak untuk berlatih membuat keputusan, akan ikut serta atau tinggal dirumah. Memberikan waktu untuk berpikir anak sama dengan menghargai keputusannya. Anak akan merasa dihormati. Lambat laun, anak akan mengerti apakah dia perlu ikut atau tidak. Untuk orang tua, berusahalah menghilangkan prasangka negatif kepada anak sehingga orang tua akan siap apapun yang akan direspon oleh anak. Dengan begitu tidak ada kata untuk membuat alasan atau berbohong kepada anak bahkan mencari space untuk pergi tanpa pamit.
Seperti kisah berikut,
Aisha anak usia 4 tahun, suatu ketika ibunya akan menghadiri rapat di sekolah. “Besok ummi mau rapat di sekolah, mba Mira dan temannya mau pergi ke ITC, Aisha bagaimana?” Setelah sejenak berpikir Aisha dengan ringan menjawab, “Aku ikut mba Mira aja”
Kisah selanjutnya,
Sesudah ke ITC, perjalanan dilanjutkan ke Tanah Abang, selagi di jalan Aisha diberitahu,“Sha, kita mau ke Pasar Tanah Abang. Di sana banyak orang dan ramai sekali. Nanti Aisha bagaimana?” Kemudian Aisha menjawab                     “Aku ikut mba Mira”.                                                                                               Sesampainya di dalam pasarpun Aisha tidak mengeluh ataupun menangis. Dia tetap menikmati perjalanannya meskipun di dalam sesak dan gerah.
Ternyata anak usia 4 tahun sudah bisa memutuskan sesuatu karena dia sudah paham atas konsekuensinya sehingga dia pun teguh pada pilihannya itu . Itulah mengapa dibutuhkan kejujuran dan sikap positif pada anak. Ketika sang ibu menelphon pun Aisha tetap tenang dan menjawab seperlunya. Tentu, karena Aisha percaya pada ibunya. Anak akan tahu jika orang dewasa menyembunyikan sesuatu darinya meskipun tidak dikatakan yaitu melalui identifikasi bahasa tubuh, raut wajah, sorot mata serta senyumnya. Anak akan melihat hal tersebut dengan mata dan hatinya bahwa  kita jujur dan mengerti apa yang dipahami dan yang akan diputuskannya.
Seru ya…
Sebenarnya kita harus banyak belajar dari anak-anak.

Tahapan perkembangan menggunting

Terkirim September 23, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Kegiatan yang memperkuat koordinasi tangan dan genggaman penjepit harus dimulai dan dilanjutkan selama usia dini. Salah satu yang menunjang koordinasi tangan adalah menggunting. Tahap awal menggunting adalah:
->Meremas    ->Merobek sepenuh tangan   ->Merobek dengan jari
Setelah muncul tahapan tersebut akan muncul perkembangan menggunting selanjutnya. Latihan-latihan ini yang menbuat sempurna. Anak harus diperbolehkan meremas, merobek, dan menggunting setiap hari. Tahapan perkembangan menggunting selanjutnya meliputi
>Menggunting sekitar pinggiran kertas                                                               >Menggunting dengan sepenuh bukaan gunting                                                   >Membuka dan menggunting terus menerus untuk sepanjang kertas.   >Menggunting diantara 2 garis lurus                                                                     >Menggunting bentuk tetapi tidak pada garis                                                   >Menggunting pada garis tebal dengan terkendali                                           >Menggunting berbagai macam bentuk

Berusahalah tidak melakukan 3M

Terkirim September 23, 2011 oleh bintangkecileducares
Kategori: Uncategorized

Tiga M adalah MARAH, MELARANG, dan MENYURUH
Ada banyak  faktor yang menyebabkan orang tua mudah sekali melakukan 3M kepada anaknya. Bisa karena  orang tua belum siap bertemu dengan anak, entah karena lelah sehabis kerja, masalah kantor,karena ingin serba cepat dan instan,atau memang tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu sehingga tidak menyadari telah melakukannya.
Banyak kasus anak yang tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya dari orang tuanya. Sang ayah atau ibu semalaman mempersiapkan agenda rapat selanjutnya di kantor. Tetapi untuk bertemu anak satu jam pun tidak ada persiapan sama sekali.
Mempersiapkan diri ketika akan bertemu anak sangat penting bagi orang tua. Semua masalah di luar harus kita tinggalkan. Bicara jujur dengan anak adalah solusi terbaik. Ketika pulang dari kantor masih dalam keadaan lelah, katakan saja kalau papa/ mama butuh istirahat sejenak untuk mempersiapkan diri untuk bertemu anak. Seluruh ekspresi orang tua akan mempengaruhi anak.
Orang tua sering kali melarang anaknya melakukan hal yang menurutnya tidak baik dilakukan padahal anak sangat ingin mencoba apa yang belum pernah ia ketahui.dalam hal ini anak adalah profesor cilik. Rasa ingin tahu sang anak membawa nalurinya untuk mengeksplore sehingga  anak tidak mengindahkan perkataan sang ayah atau ibu. Alhasil orang tua  marah dengan sikap anaknya padahal ,mungkin saja  anak bersikap deemikian karena  anak belum mengerti apa maksud kita karena kita tidak memberi pengertian pada anak. Kalau anak melakukan suatu kesalahan (menurut kita anak salah padahal anak belum mengerti) kita bisa menanyakan dan mendengarkan dulu apa yang terjadi menurut sudut pandang anak. Kita menaggapi anak sesuai dengan cara berfikirnya dengan jalan memahaminya terlebih dahulu.
Kita bisa bangun komunikasi bersama dengan anak. Mengajak anak untuk berdiskusi dalam  memecahkan suatu masalah dengan memberikan keleluasaan untuk bicara dan menyampaikan solusi  membuat anak merasa dihargai dan dihormati. Beri kesempatan dan waktu yang cukup  agar mereka belajar untuk memutuskan sendiri. Kita sebagai orang yang lebih dewasa hanya mengarahkan apabila itu benar-benar salah atau bahaya buat anak. Anak dan orang tua bisa menjadi tim diskusi yang seru. Bukan begitu? :)
Banyak cara mendidik anak, kita bisa pilih mana yang terbaik untuk anak. Apabila anak melakukan suatu hal atas  kemauannya sendiri,  anak sudah mengerti alasannya, mengapa ia lakukan hai itu. Anak yang paham akan menjadikannya sebagai kebiasaan yang intens. Jika hal itu baik maka akan menjadi karakter baik buat anak, Insya Allah.
Melalui kedua hal tersebut timbulah kata “nakal” atau labeling pada anak. Anak nakal? benarkah?
“NAKAL” adalah label yang diberikan kepada orang tua kepada anak yang berbuat tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Anak hanya BELUM/TIDAK TAHU apakah yang dilakukannya itu  benaratau salah jika kita tidak pernah menginformasikannya. Jelaskan saja pada anak apa yng seharusnya dia lakukan agar sang anak mengerti. Dengan bicara positif anak akan belajar untuk  mengerti dan paham apa yang seharusnya dia  lakukan.
Anak usia dini belum mampu mencerna kata “JANGAN atau TIDAK”. Ketika kita bicara ‘Jangan lari’ yang dicerna hanyalah kata keduanya saja yaitu “lari” . Untuk menginformosikan kepada anak kita sebaiknya menggunakan kata-kata yang seperti “lantai licin” sesuai dengan fakta bahwa lantai licin. Memang menjadi lebih panjang, tetapi akan sangat efektif.
Menjaga keselamatan anak sangat perlu. Ketika kita tahu lantai licin jangan menunggu sampai anak terjatuh apalagi sampai berkata ” apa mama bilang….” dan seterusnya. Kalimat tersebut berisi makna kalu kita menyalahkan anak. Kita bisa menggantinya dengan ” adik terjatuh karena lantai licin”. Dari peristiwa itu anak akan memetik pelajaran dan akan mengingatnya karena dia mengalami sendiri.
Biasanya kita berkata supaya anak hati-hati. Tetapi perlu kita tahu bahwa kata “hati-hati” untuk anak masih sangat abstrak. Apakah hati-hati itu?.Lebih efektif kita katakan yang sesungguhnya. Kita bisa menggantinya dengan kata ” pastikan aman ya…”.
Bagaimana dengan hukuman?
Anak usia dini belum  mengerti tujuan dari hukuman. Apa yang harus dia lakukan harus kita jelaskan. Mengingatkan terus-menerus atas kesalahannya juga tidak efektif. Menyalahkan anak membuat anak merasa tidak dihargai. Anak akan merasa malu. Memberikan dukungan kepada anak akan membangun kepercayaan dirinya. Bukankah tujuannya agar anak melakukan yang benar?
Ketika anak melakukan hal yg seharusnya dia tidak lakukan,kita perlu membahasnya dengan anak sehingga dapat dicarikan solusi dari masalahnya.Hal itu sangat berbeda ketika kita langsung menghukum anak karena anak tidak tahu kesalahannya dan menumbuhkan benih-benih kebencian pada anak karena anak merasa tidak dicintai an dihormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar